Sabtu, 25 Mei 2013

pedang kayu harum [ 19 ]

itu.
Akhirnya Kok Cin Cu, orang termuda dari Kong-thong Ngo-lojin, menghela napas panjang
dan berkata, suaranya seperti biasa halus namun penuh wibawa.
"Mencapai cita-cita tinggi tidaklah mudah, mendapatkan Siang-bhok-kiam benda pusaka tentu
saja amat sukar. Memang patut ditempuh dengan mempertaruhkan nyawa. Baiklah, mari kita
semua membuktikan, siapa di antara kita yang paling tepat dan berjodoh memiliki Siang-
bhok-kiam." Setelah berkata demikian, Kok Cin Cu meraba pinggangnya dan "singgg!"

terdengar suara nyaring ketika tosu tua ini melolos sabuknya yang ternyata merupakan sabuk
baja yang tipis dan halus. Kiranya sabuk ini merupakan senjata istimewa tosu itu, dimainkan
seperti orang memegang sebuah pecut yang tajam. Sabuk ini mengeluarkan suara berdesing
dan tampak sinarnya berkelebatan menyilaukan. Sambil memutar sabuk itu diatas kepala,
lengan kiri tosu lihai ini mengeluarkan bunyi berkerotokan, terisi oleh Ilmu Ang-liong-jiauw-
kang yang agaknya lebih mengerikan dan lihai daripada sabuk baja itu sendiri!

"Omitohud! Terpaksa kita melanggar pantangan membunuh, Sute!" kata Thian Ti Hwesio
yang beralis putih kepada sutenya sambil memutar tongkat yang dibawanya. Bukan tongkat
sembarangan tongkat, karena tongkat itu adalah sebatang tongkat senjata yang disebut Liong-
cu-pang (Tongkat Mustika Naga), tongkat yang ujungnya besar bulat seperti bola baja, dan
beratnya tidak akan kurang dari dua ratus kati! Sutenya, si tinggi besar berkulit hitam Thian
Kek Hweiso sudah mengeluarkan suara gerengan dan begitu dia menggerakkan tangan kanan
terdengar suara "Wuuuuttt....!" dan angin keras menyambar. Kiranya dia telah melolos jubah
yang dipakainya tadi dan kini jubah itu telah dia pegang ujungnya. Jangan dianggap ringan
senjata jubah ini, karena berada di tangan hwesio tinggi besar itu, jubah ini bisa berubah
menjadi senjata yang kerasnya melebihi baja, lemasnya melebihi sutera dan tajamnya
menandingi pedang!

Keng Hong memandang dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Ia melihat betapa kakek
tua renta yang duduk bersila itu sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata akan
tetapi senyum di mulutnya jelas mengandung ejekan, seolah-olah kakek itu menahan rasa geli
dan memaksa diri tidak tertawa bergelak. Dia sendiri pun merasa geli dan ingin tertawa
menyaksikan tingkah laku sembilan orang itu yang dianggapnya seperti badut-badut tak tahu
malu atau seperti segerombolan anjing hendak memperebutkan tulang. Dari tempat dia
sembunyi, pedang di depan kakek tua itu memang seperti sepotong tulang saja. Akan tetapi
mana mungkin dia bisa tertawa menyaksikan sembilan orang itu kini telah mengeluarkan
senjata semua?

Di lain saat, pandang Keng Hong menjadi silau dan kabur, telinganya seperti tuli ketika
terdengar suara desing senjata yang hiruk pikuk, matanya melihat sinar-sinar berkelebatan.
Dia ternganga keheranan dan hampir tak dapat mempercayai pandang matanya sendiri sembilan orang-orang tua itu telah lenyap tubuhnya dan yang tampak kini hanya bayangan-bayangan berkelebatan dibungkus sinar bermacam- macam, ada merah, putih, hijau dan kuning. Suaranya juga bising sekali, ada suara meledak- ledak seperti halilintar, suara mendesis seperti ular marah, suara bersuitan seperti angin badai, berkerosokan seperti angin mengamuk dan berdentangan, seperti disitu terdapat banyak pandai besi bekerja! Di tengah-tengah semua hiruk pikuk dan sinar berkelebatan itu, jelas tampak kakek tua renta masih duduk bersila dengan mulut tersenyum lebar. Pedang kayu itu
masih menggeletak mati di depan kakinya.

Pertempuran yang kacau-balau itu amat serunya dan terutama sekali perhatian masing-masing
ditujukan untuk mencegah lain orang merampas pedang maka sampai lama tidak ada korban
yang jatuh, apalagi karena mereka itu terdiri dari orang-orang yang telah mencapai tingkat
tinggi dalam ilmu silat. Tanpa mereka sadari , mereka itu saling bantu dalam pertempuran
kacau-balau itu.

Biarpun kedua matanya dipejamkan, telinga Sin-jiu Kiam-ong dapat menangkap jalannya

0 komentar:

Posting Komentar